Aku terbangun dari tidurku, cahaya terang lampu menyilaukan kedua mataku. Ruangan yang dingin, serba putih dan dipenuhi alat yang berbunyi terus menerus. Dengan masker oksigen, dan tangan yang terpasang jarum infus.
Aku melihat sekeliling, beberapa orang melihatku. Sepertinya, aku tertidur cukup lama disini. Salah satu dari mereka berteriak memanggil dokter, dengan ekspresi bahagia. Tak lama, dokter dan asisten nya menghampiri sambil memeriksaku.
"Syukurlah, pasien sudah membaik," ucap dokter sambil mengalungkan stetoskop nya. "Sudah bisa pulang untuk lusa besok ya." lanjutnya.
Penglihatanku masih samar, yang perlahan mulai jelas. Kedua orang tuaku yang terlihat ingin menangis dan ada satu-dua orang lagi di sampingnya tampak bahagia sambil melihatku.
"Nina, syukurlah kamu sudah sadar," kata ibuku sambil memegang tanganku erat. "Istirahatlah dulu nak, kamu sedang proses pemulihan." kata ayahku yang sibuk menenangkan ibu.
Nampaknya, aku sudah melewati masa kritis. Tetapi aku masih tidak tau sakit apa dan kenapa bisa ada disini.
*
Dua minggu kemudian, aku sudah berada dirumah dan menjalani kehidupan seperti biasanya. Duduk bersama sambil menyantap sarapan pagi, aku dengan lahap memakan roti dan segelas susu. Ibuku sibuk menyiapkan persiapan sekolahku, dan ayahku sibuk berbicara di ponselnya.
Ibuku menghampiriku sambil membawa tas sekolah ku, "Sayang, cepat habiskan sarapanmu. Sudah waktunya kamu berangkat." Sambil mencium dahiku dan mengelus rambutku.
Sesampainya di sekolah, banyak teman-temanku langsung menghampiri. Mereka tersenyum, beberapa sambil memelukku erat.
"Nina! Akhirnya kamu kembali!" seru salah satu sahabatku, Laura. Matanya berbinar penuh haru. Aku hanya tersenyum kikuk, tidak mengerti kenapa mereka sebahagia itu.
Di dalam kelas pun juga sama, guruku sangat bahagia melihatku ada di ruangan kelasnya. Suasana hari ini pun jadi bahagia penuh sorak gembira.
*
Karena aku adalah gadis kutu buku, sudah jelas aku lebih sering berada di perpustakaan sekolah. Meluangkan waktu untuk membaca itu sebuah hiburan untukku.
"Nina!", suara Laura mengagetkanku. "Sudah kuduga pasti ada disini." Lanjutnya duduk di sebelahku. Aku hanya tersenyum kecil, menutup buku yang sedang kubaca. Perpustakaan selalu menjadi tempat pelarianku dari keramaian, Laura pun tahu betul kebiasaanku. Kami berbincang sebentar, tertawa ringan, seolah semua terlihat normal.
Hari-hari di sekolah berlalu begitu cepat. Senyum teman-teman, suara bel, bahkan aroma khas dari kantin sekolah terasa begitu nyata. Hingga tanpa aku sadar, waktu terasa sangat cepat. Aku sudah duduk di bangku kuliah, dengan buku-buku yang lebih tebal dan pastinya fokus membaca dan belajar di perpustakaan.
Aku memang suka kesunyian, namun tidak dengan suasana rumahku sekarang. Pagiku yang dulu ceria kini berganti dengan keheningan. Ayah sering sibuk dengan pekerjaan nya, jarang menyapaku. Ibu, yang dulu selalu sigap menyiapkan barang-barangku dengan senyumnya yang hangat, kini lebih sering melamun dan menyendiri.
Kadang suara pertengkaran mereka di ruang tamu, suara yang bergetar dan penuh amarah sudah terbiasa di telingaku.
Di sela-sela kesunyian itu, aku merasakan sesuatu yang aneh. Suara samar, seperti bisikan dari jauh, kadang memanggil namaku.
*
Hari-hari kuliahku berjalan dengan ritme yang berbeda. Ruang kelas yang sunyi, aku duduk di bangku paling belakang membuka buku catatan. Namun, pikiranku tidak sejalan. Aku tidak bisa fokus menyerap materi yang semakin rumit.
Perpustakaan kampus, aku kembali menemukan tempatku. Rak-rak tinggi penuh buku menjadi tembok pelindung dari dunia luar. Ku telusuri halaman ke halaman, tapi kata-kata nya sering memudar, seolah tak bisa kupahami.
Suatu sore, dosen menghampiriku di tengah kelasnya. "Nina, kamu terlihat lelah. Jangan memaksakan dirimu," katanya dengan nada lembut. Namun, tatapannya tertuju padaku lama. Kata-katanya bergema di telingaku.
Sementara itu, rumah semakin dingin. Teriakan amarah orang tuaku menjadi rutinitas setiap malam, suara aneh itu juga. Menggema di telingaku saat pikiranku kosong.
Malam itu, aku melihat Ibu duduk sendirian di ruang tamu. Matanya sayu, merah seperti baru selesai menangis. Tatapannya kosong menatap ke arah luar rumah dari jendela. Aku ingin mendekat dan memeluknya, tapi kenapa begitu berat. Seperti ada jarak yang aku pun tidak bisa menjelaskan.
Akhirnya aku mengunci diriku dikamar, mencoba tenang dengan duduk di tepi kasur. Di sela kesunyian, suara itu muncul lagi. Seperti suara beberapa orang saling berbisik-bisik, perlahan aku berdiri dan menatap cermin.
"Tidak akan bisa!" bisik yang terdengar samar namun cukup jelas di telingaku. Aku terdiam, dan bingung. Darimana suara ini?
*
Sambil membuka sosmed di ponselku, aku dengan lahap menyantap nasi telur goreng favorit ku. Dengan suasana yang sama, hening. Namun kali ini, aku melihat ponsel ayah diatas meja. Awalnya biasa saja, tapi seringkali bergetar karena ada pesan masuk.
Sesekali kuintip sedikit, ada pesan singkat tanpa nama yang muncul di bar notifikasi. Kata-kata yang manis dan sedikit manja, tapi bukan dari ibu. Terkejut, langsung ku tutup cepat-cepat. Ku tatap ibu yang sedang sibuk sendiri di dapur dengan wajah kosong, ingin ku bertanya dan memeluknya tapi kenapa lidahku kelu.
Pikiranku tidak tenang, isi kepalaku penuh dengan kata-kata "Siapa dia?". Aku mencoba cari cara untuk mencegah hal itu terjadi, apa yang harus kulakukan. Bicara langsung ke ayah, atau bertanya pada ibu.
Malam berikutnya, aku memberanikan diri. Saat ayah pulang larut, aku menunggunya di ruang tamu. "Ayah," suaraku bergetar, "siapa dia?"
Ayah terdiam, menatapku lama, "Ayah gak paham maksud kamu, siapa apa?" jawabnya dengan nada keraguan. Kujelaskan tentang pesan singkat kemarin, dan ayahku beralasan itu teman kantornya yang 'iseng'.
Namun nada suaranya tidak meyakinkan. Tatapannya menghindar, seolah ada sesuatu yang ingin disembunyikan. Aku menelan ludah, mencoba menahan rasa sakit di dadaku. Malam itu aku kembali ke kamar, dan lagi-lagi suara bisikan samar kembali muncul : "Kau pengkhianat!"
*
Selalu pulang larut malam dengan alasan rapat, telepon yang selalu dia angkat sebelum masuk ke rumah, bahkan aroma parfum asing yang kadang menempel di bajunya. Semua menjadi potongan puzzle yang menyakitkan.
"Nina, jangan terlalu memikirkan hal yang membuatmu sedih. Sudah, lepaskan saja," tiba-tiba aku terbangun setelah mendengar suara itu di kepalaku. Kulihat ibu berada di sebelahku, sambil melihat album foto lama yang sudah usang.
Sambil tersenyum, ibu menutup album foto dan meletakkan nya diatas meja. "Sayang, maaf ya ibu ganggu kamu ya?" katanya. Namun kata-kata itu justru membuatku semakin yakin bahwa Ibu sedang menahan luka yang besar.
Langkah berikutnya, aku memberanikan diri untuk mencari tahu lebih jauh. Suatu sore, aku mengikuti ayah dari kejauhan saat ia pulang kerja. Jalanan ramai, lampu kota berkelip, di sana ia terhenti di sebuah kafe. Ada seorang wanita menyambutnya. Senyum mereka sangat akrab, terlalu dekat untuk sekedar teman kantor.
Aku berdiri di luar kafe, tubuhku gemetar. Air mata menetes tanpa bisa kutahan. Apa mungkin ibu sudah tahu jika ayah mengkhianati nya?
Namun, saat wajahnya menoleh, aku terkejut. Dadaku seketika sesak, karena aku melihat Laura. Sahabat yang selalu menemaniku, duduk dihadapan ayahku dengan tatapan penuh kasih. Duniaku runtuh.
*
Aku berlari meninggalkan kafe, dengan air mata yang mengaburkan pandanganku. Jalanan ramai, lampu kota berkelip. Suara itu muncul kembali, lebih keras: "Hentikan!"
Langkahku goyah. Tubuhku terasa tidak ada tenaga, aku terjatuh saat itu. Semuanya terlihat melambat, seorang pria berlari kearahku namun sangat lambat. Yang terdengar hanya suara berisik dari arah berlawanan, suara klakson mobil. Seketika hening, gelap.
Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada bisikan yang menakutkan. Hanya sunyi, seolah menunggu sesuatu. Aku terbangun, entah dimana yang kulihat hanya gelap namun ada lorong panjang dengan lampu memudar.
Di tengah kesunyian itu, aku melihat sosok kecil berdiri di ujung lorong. Rambutnya dikuncir dua, wajahnya polos, mata berbinar penuh harapan. Aku tertegun. Itu aku, Nina kecil.
“Nina…” suaranya lembut, seperti panggilan dari masa lalu. Aku mendekat, air mata mengalir tanpa bisa kutahan. “Aku sudah mencoba menghentikan nya,” kataku lirih. “Tapi aku gagal.”
Nina kecil mendekat, menggenggam tanganku erat. Tatapannya jernih, tapi penuh rahasia. “Kamu tidak sadar, kan? Semua ini sudah kamu lakukan ratusan kali. Setiap kali kamu berlari, menangis, berteriak… kamu selalu kembali ke titik awal. Kamu terjebak dalam lingkaran mimpi yang tak pernah berakhir.”
Aku terdiam, tubuhku bergetar. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada semua luka yang pernah kurasakan. “Ratusan kali…?” bisikku.
Selama ini aku tidak pernah sadar dan terbangun dari rumah sakit itu. Semua yang aku alami hanyalah mimpi yang terus berulang kali yang dimana ujungnya aku seperti mati.
*
Nina kecil tersenyum, lalu menggenggam tanganku. “Mungkin memang waktunya berhenti. Kamu sudah berjuang terlalu lama.”
Kami duduk bersama, bercerita tentang masa lalu. Tentang sekolah, tentang buku-buku di perpustakaan, tentang senyum ibu yang hangat. Semua kenangan indah yang pernah ada. Lalu perlahan, kami berdiri.
Tangannya menggenggam erat tanganku. Kami berjalan bergandengan, melangkah ke arah cahaya yang semakin terang. Suara bisikan yang dulu menakutkan kini hilang, berganti dengan keheningan yang damai.
Aku dan diriku yang kecil pergi bersama, hilang dalam keabadian.